Rabu, 24 Desember 2014

Haruskan selalu adik kelas yang mengambil secercah perasaanku?



Hay pembaca setia silvya’s inspirations,  kayaknya udah lama ya aku gak nulis di blog kesayangan ini. eemmm gak kayaknya sih, tapi emang udah lama. Maklumlah semester 3 ini banyak banget tugasnya. Jadi perlu waktu yang bener-bener free buat posting. Dan ini salah satunya.

Kalian masih inget MR.H kan? Yang aku tulis di postingan sebelumnya. tentu saja kalian ingat, karena aku selalu menyebutnya dalam beberapa postingan terakhir. Aku merasa perasaanku ke dia semakin kuat. Bahkan aku sering memimpikannya dalam tidur.  Beberapa minggu yang lalu aku barusaja pelantikan dan rapat kerja HMJ Akuntansi. Posisiku sebagai BPH mewajibkanku untuk selalu berkumpul dengan BPH lain, yang tak lain salah satunya adalah dia. Aku mencoba professional dengan perasaanku. Aku benar-benar tak bisa membawa perasaanku kedalam pekerjaanku. Dan itu yang membuatku semakin jauh.

Aku kira dengan posisi ini aku akan jadi lebih dekat denganya. Memang benar saja aku jadi semakin dekat denganya. Tapi justru itu yang membuat semakin sakit. Dimulai dari satatus di social media yang mengatakan bahwa dia mungkin jatuh cinta pada seseorang. Entah mengapa waktu itu aku juga menuliskan hal yang merupakan balasan untuk dia. Aku katakan, mungkin aku jatuh cinta dengan orang yang sudah jatuh cinta pada orang lain. Memang tak ada yang tau siapa orang yang aku maksud itu, termasuk dia.

Aku tetep yakin aku gak apa-apa karna aku belum tau kebenarannya. Namun sore ini, aku harus mulai menjalankan tuntutan tugasku minggu ini. Dilobi kampus tepatnya aku panggil dia dengan seutas senyum. Karena dia selalu memintaku untuk tersenyum. Namun dia hanya menjawab “nanti ya sil” sambil tersenyum lalu duduk disamping gadis yang sedari tadi duduk tidak jauh dari tempatku. Sepertinya anak semester pertama . dia cantik, anggun, dan selalu senyum seperti yang diinginkan.

Aku masih benar-benar taka apa-apa. Tapi setelah percakapan mereka selesai, dia langsung masuk kelas tanpa menghampiriku sama sekali. Saat itu aku duduk bersama pria yang membantuku bekeja sore ini, melihat mereka berpisah, pria disebelahkupun meminta izin untuk berbicara dengan gadis muda itu wajahku berubah seketika setelah mendengar percakapan mereka.
Haruskan selalu adik kelas yang mengambil secercah perasaanku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar