Minggu, 25 Januari 2015

Terimakasih Masa Lalu, Untuk Kau Masa Depan (Episode : Kau Yang Terhebat, Dimas)



Terimakasih Masa Lalu, Untuk Kau Masa Depan 

(Episode : Kau Yang Terhebat, Dimas)

Writer  : Silviana

Persahabatan kami sudah berlangsung sejak lama. Kami berempat sudah seperti ini sejak kelas 3 SMP. Yang aku ingat saat itu, kami mulai bersama sejak tinggal di asrama sebelum Ujian Nasional. Hubungan kami masih baik-baik saja, dan akan tetap baik-baik saja selama rahasia itu tidak terbongkar. Setelah lulus dari SMP, kami berempat melanjutkan ke SMA yang sama meskipun dengan jurusan yang berbeda. Dimas dan Yulia mengambil jurusan IPA, Rio mengambil jurusan IPS, dan aku sendiri Winda mengambil jurusan Bahasa.
Sore itu sekolah sudah mulai sepi. Anak-anak sudah selesai mengikuti ekstra kulikuler masing-masing. Dan kami berempat masih duduk di bawah gawang lapangan futsal di samping sekolah. Seorang pria tua penjaga sekolahpun menegur kami. Ia bertanya apa yang sedang kami lakukan disana.
“Hari sudah menjelang malam. Kenapa kalian masih belum pulang?” Tanya Bapak-bapak yang akrab kami sapa dengan panggilan pak Yono.
“Kami masih ingin bermain disini, Pak.” Jawab Rio seketika itu.
“Apa Bapak sudah akan mengunci gerbangnya?” Tanyaku pada pak Yono.
“Baiklah. Tapi jangan sampai maghrib. Bapak akan segera menutup gerbangnya saat maghrib tiba.”
Sekitar pukul 17.00 WIB, kami memutuskan untuk pulang. Setelah keluar dari gerbang, Pak Yono segera menutup dan mengunci gerbang sekolah. Seperti sudah lama menunggu kami untuk keluar.
Seperti biasa, orang tuaku belum pulang dari bekerja. Inilah salah satu alasan mengapa aku berani pulang sesore ini.  Aku segera masuk ke kamarku dan membersihkan badan. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
“Itu pasti Ayah dan Ibu.” Pikirku dan kemudian menarik selimut untuk segera tidur.
**
Langit Siang itu benar-benar cerah. Kami berempat duduk santai dibawah pohon mangga sambil bermain gitar. Permainan gitar dan suara merdunya dari dulu selalu membuatku merasa nyaman. Namun keceriaan kami terhenti saat Yulia berkata ia akan segera meninggalkan Surabaya.
“Kenapa kamu harus pergi, Yul?” Tanya Dimas.
“Aku akan ikut pindah bersama orang tuaku ke Malaysia, kalian tahu kan aku disini hanya tinggal bersama mereka. Jika aku tidak ikut, lalu aku dengan siapa?”
“Kamu bisa tinggal bersamaku, Yul. Aku selalu sendiri dirumah, orang tuaku sibuk bekerja. Kamu bisa tinggal bersama kami.” Jawabku berharap Yulia menyetujuinya.
Yulia masih tetap diam. Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dia pasti menolak tawaranku tadi dan tetap akan segera pergi meninggalkan Surabaya.
“Tapi kamu pasti akan kembali ke Surabaya kan, Yul?” Tanya Rio yang sedari tadi hanya diam.
“Tentu teman-teman. Aku akan kembali kesini. Dan aku tidak akan melupakan kalian.” Jawab Yulia dengan senyum manisnya.
Kami bertiga ikut mengantar Yulia ke Bandara pagi itu. Sebagai kenang-kenangan, kami membeli dan memakai gelang persahabatan. Dengan harapan kami tidak akan melupakan satu sama lain.
**
“Winda, Rio sudah menunggu dibawah.”  Teguran ibu mengagetkan lamunanku.
Aku letakkan kembali foto kami berempat dan keluar menemui Rio. Aku lihat Rio dengan kaos hijaunya sudah menunggu di depan pintu.
“Rio, kenapa tidak masuk saja. Lalu, dimana Dimas? Tidak jadi ikut?”
“Dimas sudah dimobil. Kamu lama sekali, ngapain aja?”
“Maaf, tadi ada kesalahan teknis sedikit. Yuk berangkat, aku sudah tidak sabar ingin bertemu Yulia.”
Hari ini Yulia kembali ke Surabaya. Kami sudah menantikan hari ini sejak lama. Selama dalam perjalanan pulang dari bandara, kami tidak henti-hentinya bercerita tentang kekonyolan yang dulu sering kami berempat lakukan.  Suasananya masih tetap sama, bahkan semakin seru karena kami memiliki banyak cerita baru. Yulia tampak semakin cantik. Hal itu sedikit membuatku merasa iri dan tersaingi. Karena Dimas dan Rio tidak henti-hentinya menggoda Yulia dan seakan melupakan keberadaanku disini. Mungkin ini hanya perasaanku saja, maka aku mencoba menenangkan pikiranku dan fokus dibalik kemudi.
**
(Tok Tok Tok) Pintu rumahku diketuk. Mbak Sri segera meghampiri dan membukakan pintu untuk tamu.
“Eh Mas Dimas. Silakan masuk, Mas. Saya panggilkan mbak Winda dulu.”
“Ya mbak, terimakasih mbak Sri.”
Aku keluar kamar bahkan sebelum mbak Sri memanggilku. Dengan tersenyum ku katakan pada mbak Sri untuk membuatkan minuman dingin. Lalu aku menghampiri Dimas yang duduk di ruang tamu.
“Hai Dim, tumben kesini sendirian? Rio Mana?”
“Rio pergi sama Yulia, Win. Katanya sih mau jalan-jalan keliling daerah sini.”
“Lalu,kamu kesini ngapain?” Tanyaku
“Win, kamu masih ingat kan, aku pernah cerita sama kamu kalau aku suka sama Winda. Dan setelah aku bertemu lagi dengan Winda, aku menjadi semakin yakin kalau aku benar-benar cinta sama dia.”
Entah mengapa setelah aku mendengar jawaban itu senyumku seakan terpaksa.  Aku mendengarnya beberapa tahun lalu, dan sekarang aku mendengarnya lagi.
“Ya, aku ingat. Lalu?”
“Kamu mau kan membantuku untuk bisa lebih dekat denganya.”
“Bukankah kita semua sudah dekat?”
“Ya, memang. Tapi maksudku sebagai seorang kekasih. Kamu mau kan bantu aku, Win?”
“Sebagai teman yang baik, pasti aku akan membantumu.”
Seperti yang aku tahu sejak dulu, Dimas sangat menyukai Yulia. Dan aku sadar, aku tidak bisa menggantikan posisi Yulia selama beberapa tahun ini.
**
Yulia berkunjung ke rumahku malam ini. Dia tampak semakin cantik dengan pipi merona dan senyum penuh bahagia. Kami berdua segera masuk ke kamar dan mulai bercerita.  Cerita Yulia mengagetkanku seketika itu. Saat ini aku memiliki misi untuk membuat Yulia dan Dimas dekat, namun ternyata Yulia sudah menemukan pria idamanya. Dan tidak lain pria itu adalah Rio. Memang selama ini akulah yang sering dijadikan tempat menyimpan rahasia diantara kami berempat. Dan karena itulah aku tahu semua hal yang dirasakan setiap dari kami. Aku tidak yakin dapat mengatakan ini pada Dimas. Aku takut melukai perasaanya.
“Win, kamu tahu tidak? Hari ini aku dan Rio resmi jadian?”
“Jadian?” Responku kaget.
“Ya, Winda. Kami sudah jadian. Aku harap kamu dan Dimas tidak marah pada kami. Karena persahabatan kita sudah kami berdua rubah sekarang.”
“Tidak akan ada yang marah padamu, Yul. Kalian jadian, itu adalah sebuah ketulusan. Aku dan Dimas pasti dapat mengerti kalian.”
Telepon rumah berdering. Namun terdengar mbak Sri segera mengangkatnya. Tidak lama kemudian, mbak Sri mengetuk pintu kamar dan berkata bahwa ada telepon untukku. Aku segera mengahampiri kea rah mbak Sri.
“Hallo, ini Winda.”
“Win, kita bisa bertemu besok? Hanya berdua.”
“Dimana?”
“Ice Cream Shop dekat kampus pukul 14.00”
Teleponpun ditutup. Aku kembali ke kamar dan berbaring di kasur seakan tahu apa yang akan terjadi besok di kedai es krim. Sedangkan gadis di sampingku masih tersenyum tidak menentu menahan gejolak asmaranya.
**
“Aku pikir kamu akan membantuku, Win.”
“Aku sudah membantumu. Tapi jika Yulia memilih Rio untuk menjadi pasanganya, lalu aku bisa apa?”
“Seharusnya kamu bisa membantuku lebih keras lagi. Kamu tahu, aku sangat menyukainya sejak dulu.”
“Dim, apa kamu pernah mencoba mengatakan pada Yulia tentang perasaanmu? Apa Rio juga tahu?”
Dimas hanya diam. Karena dia sadar bahwa selama ini dia memang tidak pernah mengatakan hal ini kepada siapapun selain kepadaku.  Tanpa bicara, Dimas pergi bersama motornya meninggalkanku dikedai es sendirian.
Melihat Dimas seperti itu, aku seperti mengaca dan melihat diriku sendiri. Selama ini aku juga selalu diam dan memendam semuanya sendirian. Bahkan mereka bertiga tidak ada yang pernah mendengarkan keluh kesahku. Atau karena aku terlalu mendengarkan mereka sehingga aku merasa tidak ada gunanya menceritakan hal ini kepada mereka.
Akhir pekan masih berjalan seperti biasa. Kami berempat pergi ke Bioskop dan ke toko buku. Keadaan juga tidak banyak berubah. Kami masih tetap seperti biasa, meskipun dua diantara kami memiliki hubungan yang lebih spesial. Hanya saja sepertinya Dimas masih kecewa kepadaku. Tatapan matanya sedikit membuatku merasa takut. Aku hanya berharap keadaan seperti ini tidak berlangsung lama. Karena jujur saja aku tidak tahan jika harus selalu diam pada Dimas.
**
Kalender menunjukkan 30 Juni. Dimas berulang tahun yang ke 21 hari ini. Kami berempat hanya merayakan secara sederhana seperti biasanya. Siang itu, saat Rio dan Yulia bercanda berdua, Dimas terlihat sangat terpuruk. Mungkin dia cemburu. Aku dapat melihat jelas perubahan pada wajahnya.
“Dim, ka…mu masih marah ya sama aku?”
“Tidak, Win. Aku hanya kecewa sama kamu.”
“Aku minta maaf, Dim. Bukannya aku tidak mau membantumu, tapi…”
Tiba-tiba saja Yulia dan Rio menyusul kami berdua. Pembicaraan kamipun terhenti karena kami ingin hal ini tetap menjadi rahasia.
“Ciye… yang semakin nempel saja. Aku tahu kok, pasti pria yang kamu suka itu Dimas kan, Win.” Ucap Yulia.
“Eh. Ap…pa apaan sih. Ngaco saja kamu.” Jawabku gugup.
“Ya ya aku jadi ingat. Ternyata wanita yang kamu suka itu Winda, Dim? Aku ingat sekali. Kamu pernah bercerita padaku bahwa kau menyukai salah satu wanita diantara kita. Pasti dia Winda.” Sambung Rio dengan nada yakin.
Dimas hanya diam dan menatapku sinis. Lalu berkata “Oh jadi ini sebabnya kamu tidak ingin membantuku, Win. Aku semakin kecewa.”
Dimaspun pergi meninggalkan kami bertiga. Yulia dan Rio saling menatap satu sama lain, terlihat bingung dan berusaha meminta penjelasan tentang semua ini.
Sejak kesalahpahaman hari itu, kami tidak pernah berkumpul lagi. Aku juga masih merasa takut untuk melihat Dimas. Mungkin Dimas sudah merasa sangat kecewa padaku. Syukurlah tidak selang beberapa lama, aku harus ikut ke Bandung bersama orang tuaku. dan sejak saat itu pula, kami tidak pernah bertemu satu sama lain selama kurang lebih 8 bulan.
**
Yulia dan Rio sudah menungguku di salah satu meja di ice cream shop tempat kami biasa berkumpul dulu. Aku sangat merindukan mereka.  Kami saling bercerita hal-hal seru seperti saat Yulia pulang dari Malaysia dulu. Rasanya kejadian itu terulang kembali. Seorang pria yang tidak lain adalah Dimas, datang menghampiri kami. Dia masih tampak begitu tampan.
“Winda, kamu apa kabar?” sapa Dimas padaku.
“Aku baik-baik saja, Dim. Kamu sendiri bagaimana?”
“Aku tidak merasa baikan selama 8 bulan ini. Namun sekarang aku benar-benar merasa baikan setelah kamu kembali.”
Aku diam beberapa menit. Sampai seorang pelayan café mengantarkan ice cream pesanan kami.  Tiba-tiba saja Dimas menggenggam tanganku. Yulia dan Rio hanya tersenyum melihat Dimas yang seakan bersikap romantis padaku.
“Win, aku minta maaf. Aku sudah salah paham sama kamu selama ini. Aku juga sadar, ternyata aku hanya melihat kedepan tanpa melihat disampingku. Dan kini aku sadar, aku menyayangimu.” Ucap Dimas lirih.
“Dim, terimakasih ya atas pengertian kamu. Aku bahagia mendengarnya. Tapi guys… kedatanganku kesini selain aku kangen sama kalian, aku juga ingin mengantarkan ini.” (memberikan surat undangan)
“Ini apa, Win?” Tanya Rio
“Ini Undangan pertunangan?” sambung Yulia kaget.
“Ya. Aku akan bertunangan 6 hari lagi. Aku harap kalian datang ya.”
“Tapi Dimas, Win?” Yulia seakan tidak menginginkan ini semua benar.
Aku melihat kearah wajah Dimas. Ku pegang tanganya. Kini aku benar-benar melihat wajah pria yang pernah aku puja pucat pasi dan terlihat kacau. Bahkan lebih kacau daripada saat ia melihat Yulia bersama Rio dulu.
“Aku telat, Win?” ucap Dimas.
Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum. “Kamu tidak pernah telat, Dimas.”
**
Semua tamu sudah berkumpul di Ruang tengah. Suasana yang romantis menyelimuti setiap sudut ruangan. Aku berjalan menuju ke tengah ditemani  Yulia yang tersenyum melihatku segera bertunangan.  Dimas berdiri di ujung tepat dihadapanku. Langkah kakiku semakin mendekati Dimas. Aku bahagia dia berada disini, di hadapanku. Tepat di hadapannya aku berhenti. Lalu kami berdua berjalan ke tengah ruangan untuk segera melanjutkan acara tukar cincin. Seorang pria sudah menunggu diujung jalan. Dan tanganya segera menjemput tanganku untuk segera berada disampingnya.
“Baiklah, acara yang sudah kita tunggu-tunggu akan segera dimulai.” Ucap seorang pria yang ditunjuk oleh keluarga kami untuk menjadi pembawa acara.
Dimas membuka kotak cincin yang sedari tadi dibawanya. Seorang pria bernama Andi segera mengambil dan memakaikan cincin di jari manisku. Begitu pula aku yang segera memakaikan cincin ke jarinya setelah cincin itu melingkar di jariku. Semua orang bertepuk tangan. Termasuk Dimas yang masih berada disampingku.  Seusai acara, aku menyusul mereka bertiga yang duduk di salah satu bangku tamu.
“Terimakasih, Yul, Rio, dan Dimas. Kalian sudah membantu menyukseskan acara ini.”
“Sama-sama, Win. Semoga kamu bahagia, ya.” Jawab Yulia.
Aku kembali menatap Dimas. Dia masih tersenyum dalam keadaan seperti ini. Ku genggam tanganya dan berkata.
“Kamu yang terhebat, Dimas.”
Tidak lama kemudian, Andi menghampiri kami berempat. Andi tampak begitu mengerti tentang kami. Lagipula, Andi adalah masa depanku yang telah aku pilih. Aku bahagia telah memiliki hubungan yang serius dengan Andi. Meskipun mungkin dulu aku sudah banyak berkorban untuk Dimas, namun inilah yang kami sebut takdir. Selama ini, kami berempat hanya diuji. Tuhan telah menguji persahabatan kami. Apakah kami akan hancur karena kesalahpahaman, atau bahkan lebih kuat dengan kesalahpahaman itu.
Satu kalimat yang terucap untuk Dimas dari kami berdua adalah “Kamu yang terhebat, Dimas. Terimakasih sudah membawakan cincin pertunangan kami.”

selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar